Konsep dan Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembaharuan pendidikan selalu mengalami perbaikan, sehingga pembelajaran tidak hanya berbasis akademik saja. Berbagai penemuan teori- teori pembelajaran selalu digencarkan agar pendidikan mengalami inovasi yang terus menerus berkembang. Memasuki zaman yang berbasis teknologi, maka pendidikan pun tak mau kalah jauh selalu memajukan teknologi dan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.
Salah satu pembaruan pendidikan yaitu dengan adanya suatu penelitian yang mencari titik kelemahan dalam suatu pembelajaran yang dilakukan dalam lingkup kelas. Dalam hal ini guru memang menjadi objek sebagai pembaruan dalam pendidikan, sehingga seorang guru secara tidak langsung juga dituntut untuk dapat melakukan sebuah penelitian dengan berbekal pengetahuan, kesabaran, dan ketekunan.
Adanya masalah yang memicu guru untuk melakukan sebuah penelitian tidak lain karena kesadaran guru itu sendiri yang menginginkan masalah tersebut sebagai acuan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran agar menjadi yang lebih baik. Sehingga guru ingin mencari kelemahannya sendiri. Kemudian mencoba menyempurnakan dengan diadakannya sebuah penelitian tindakan kelas. Dengan adanya penelitian ini, guru dituntun untuk berfikir kritis dan memperbaiki pola berfikirnya, yaitu bahwa mengajar tentunya tidak hanya datang secara rutin lalu memberi penjelasan kepada peserta didik kemudian selesai. Oleh karena ini, pembahasan makalah ini, dimulai dari konsep dasar dan prinsip-prinsip PTK. Oleh karenanya, perlu adanya pemahaman yang baik, sehingga tujuan yang ingin dicapai bisa berjalan dengan efektif dan efisien.

B. Rumusan Masalah

1. Pengertian penelitian ?
2. Hubungan penelitian dengan penelitian tindakan ?
3. PTK merupakan bagian dari penelitian tindakan ?
4. Pengertian penelitian tindakan kelas ?
5. Ciri khusus penelitian tindakan kelas ?
6. Prinsip-prinsip penelitian tindakan kelas ?

C. Tujuan

1. Agar mahasiswa mampu memahami pengertian penelitian.
2. Agar mahasiswa mengetahui hubungan penelitian dengan penelitian tindakan.
3. Agar mahasiswa mengetahui bahwa PTK juga merupakan bagian dari penelitian tindakan.
4. Agar mahasiswa mengetahui pengertian penelitian tindakan kelas.
5. Agar mahasiswa mengetahui ciri khusus penelitian tindakan kelas.
6. Agar mahasiswa mengetahui prinsip-prinsip penelitian tindakan kelas.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Penelitian

Seringkali penelitian (research) didefinisikan sebagai sebuah upaya menemukan pengetahuan baru.[1] Hal ini memang sudah sewajarnya karena pengetahuan merupakan sesuatu yang dicari dan ingin dimiliki oleh manusia untuk dapat memahami hal-hal di sekitarnya. Dalam perkembangannya penelitian didefinisikan sebagai sebuah upaya menemukan jawaban secara ilmiah dari sebuah masalah yang dihadapi manusia. Ilmiah dalam konteks tersebut, diartikan sebagai landasan atas bangunan ilmu tertentu. Dengan demikian pengetahuan yang bersifat ilmiah diperoleh melalui sebuah proses pendekatan ilmiah yang disebut penelitian ilmiah dan dibangun di atas teori tertentu. Teori yang berkembang melalui penelitian yang sistematis dan terkendali akan dapat diuji validitas dan reliabilitasnya, artinya jika penelitian tersebut dilakukan oleh orang lain dengan metode dan kondisi yang sama akan diperoleh hasil yang sama pula. Jadi pendekatan ilmiah akan menghasilkan kesimpulan yang serupa bagi hampir setiap orang, karena pendekatan tersebut bersifat obyektif dan tidak diwarnai hal-hal yang bersifat subyektif. Penelitian sebagai bentuk khusus dari metode ilmiah memiliki beberapa sifat yang penting, yaitu penelitian mempergunakan teknik-teknik yang teliti dan sistematik, dan pemecahan masalah didasarkan atas pengetahuan yang sejauh ini telah dicapai oleh penelitian yang terdahulu. Dengan bertolak pada pengetahuan itu, penelitian disusun secermat mungkin, dengan teknik-teknik yang memiliki validitas setinggi mungkin. Pengumpulan data yang dilakukan penekannya adalah untuk menguji, bukan mutlak membuktikan, kebenaran atau ketidak benaran hipotesis. Dalam penelitian dilakukan pengolahan data dan mengorganisasikannya dalam ukuran-ukuran kuantitatif atau kualitatif, yang kemudian dianalisis serta disimpulkan hasilnya. Selanjutnya hasil penelitian dilaporkan dalam bentuk yang sistematis, mengandung penjelasan masalah, tujuan, jenis penelitian, pengumpulan data, analisis dan kesimpulan. Di bawah ini dituliskan beberapa arti penelitian, yang mana penelitian adalah :
1. Proses pembuktian dari sebuah teori yang diajukan.
2. Proses mencari atau menemukan jawaban secara cermat dan sistematik, dari pertanyaan atau hal-hal yang ingin diketahui jawabannya.
3. Proses mencari jawaban secara ilmiah dari pertanyaan yang diajukan secara deduktif, induktif atau verifikatif.
4. Proses mencari jawaban secara ilmiah melalui kegiatan kajian pustaka, pengumpulan data, pengolahan data, analisis dan penyimpulan.
5. Kegiatan ilmiah untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.
6. Kegiatan ilmiah guna menemukan pengetahuan baru, prinsip-prinsip umum, serta mengadakan ramalan generalisasi.

Kerja penelitian umumnya terdiri dari beberapa langkah utama, yaitu:
1. Melakukan kajian terhadap permasalahan.
2. Melakukan kajian teoretis dari permasalahan untuk kemudian secara deduksi dirumuskan menjadi hipotesis dari masalah yang dihadapi.
3. Mengumpulkan data empiris guna pengujian hipotesis.
4. Mengadakan uji hipotesis, dan
5. Membuat kesimpulan.

Penelitian dikatakan berhasil atau selesai apabila pertanyaan yang diajukan pada saat dimulainya penelitian telah terjawab. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian merupakan proses yang berjalan secara terus-menerus dan tidak akan pernah merupakan hasil yang bersifat final karena sering kali hasil penelitian seseorang harus tunduk pada penelitian orang lain di kemudian hari yang mampu membantah kebenaran hasil penelitian sebelumnya.

B. Hubungan Penelitian dengan Penelitian Tindakan

Mengingat luasnya cakupan kerja penelitian maka penelitian dikelompokkan dan diberi nama yang spesifik. Misalnya, adanya kelompok penelitian deskriprif dan penelitian eksperimental.

Penelitian deskriptif merupakan paparan (deskripsi) informasi tentang suatu gejala, peristiwa, kejadian sebagaimana adanya. Berbeda dengan penelitian eksperimen, pada penelitian deskriptif tidak diadakan perlakuan. Penelitian ini mengkaji dan memaparkan sesuatu keadaan sebagaimana adanya.

Penelitian eksperimen dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang akibat dari adanya suatu treatment atau perlakuan. Penelitian eksperimen dilakukan untuk mengetes suatu hipotesis dengan ciri khusus:
1. Adanya variabel bebas yang dimanipulasi.
2. Adanya pengendalian atau pengontrolan terhadap semua variabel lain, kecuali variabel bebas yang dimanipulasi.
3. Adanya pengamatan dan pengukuran terhadap variabel terikat sebagai akibat dari tindakan manipulasi variabel bebas.

Di samping kedua penelitian tersebut, ada pula yang dinamakan penelitian tindakan (action research). Penelitian tindakan bukan lagi mengetes sebuah perlakuan, tetapi sudah mempunyai keyakinan akan ampuhnya sesuatu perlakuan. Pada penelitian tindakan, peneliti langsung menerapkan perlakuan tersebut dengan hati-hati, seraya mengikuti proses serta dampak perlakuan yang dimaksud. Dengan demikian, penelitian tindakan ini dapat dipandang sebagai tindak lanjut dari penelitian deskriptif maupun eksperimen.

Ada pula yang menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan penelitian eksperimen dengan ciri yang khusus. Jika dalam penelitian eksperimen peneliti ingin mengetahui akibat dari suatu perlakuan (treatment,tindakan, atau “sesuatu” yang dilakukan), maka pada penelitian tindakan, peneliti mencermati kajiannya pada proses dan akibat dari tindakan yang dibuatnya. Berdasarkan hasil pencermatan itu, dapat dilakukan tindakan berikutnya sehingga diperoleh infonnasi yang mantap tentang dampak tindakan yang dibuatnya.

C. PTK Merupakan Bagian Dari Penelitian Tindakan
Berdasarkan tujuannya penelitian tindakan dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut:
1. Penelitian tindakan partisipasi (participatory action research), yang menekankan keteriibatan masyarakat agar merasa ikut serta memiliki program kegiatan tersebut, serta berniat ikut aktif memecahkan masalah berbasis masyarakat.
2. Penelitian tindakan kritis (critical action research) yang menekankan adanya niat yang tinggi untuk bertindak memecahkan masalah kritis.
3. Penelitian tindakan institusi (institutional action research), yaitu dilakukan oleh pihak pengelola sekolah sebagai sebuah organisasi pendidikan untuk meningkatkan kinerja, proses, dan produktivitas lembaga.
4. Penelitian tindakan kelas (classroom action research), yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru, bekerja sama dengan peneliti (atau dilakukan oleh guru sendiri yang juga bertindak sebagai peneliti) di kelas atau di sekolah tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempumaan atau peningkatan proses dan praktik pembelajaran.

D. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berasal dari istilah bahasa Inggris Classroom Action Research, merupakan suatu model penelitian yang dikembangkan di kelas. Ide tentang penelitian tindakan ini pertama kali dikembangkan oleh ahli psikologi Amerika Serikat yakni Kurt Lewin pada tahun 1946, yang selanjutnya dikembangkan oleh Stephen Kemmis, Robin Mc Tsnggsrt, John Elliot, Dave Ebbutt dan lainnya.[2]

Menurut Stephen Kemmis, action research adalah suatu bentuk penelaahan atau inkuiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari praktik-praktik sosial atau pendidikan yang mereka lakukan sendiri; pemahaman mereka terhadap praktik-praktik tersebut, dan situasi di tempat praktik itu dilaksanakan.[3]

Menurut Rapoport yang dikutip oleh Hopkins mendefinisikan penelitian tindakan kelas adalah penelitian untuk membantu seseorang dalam mengatasi secara praktis persoalan yang dihadapi dalam situasi darurat dan membantu pencapaian tujuan ilmu sosial dengan kerja sama dalam kerangka etika yang disepakati bersama. Penelitian kelas juga diartikan suatu kegiatan ilmiah yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan jalan merancang, melaksanakan, mengamati dan merefleksikan tindakan melalui beberapa siklus kolaboratif dan partisipatif yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu proses pembelajaran di kelasnya.[4]

Sedangkan tim pelatih proyek PGSM mengemukakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktik pembelajaran tersebut dilakukan.

Sejalan dengan pengertian diatas, Prabowo (2001) mendefinisikan makna dari penelitian tindakan yaitu suatu penelitian yang dilakukan kolektif oleh suatu kelompok sosial (termasuk juga pendidikan) yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas kerja mereka serta mengatasi berbagai permasalahan dalam kelompok tersebut.

Berdasarkan definisi penelitian tindakan yang diberikan oleh beberapa pakar di atas, dapat dirumuskan pengertian PTK adalah penelitian tindakan dalam bidang pendidikan yang dilaksanakan dalam kawasan kelas dengan tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Secara singkat PTK dapat didefinisikan sebagai suatu penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, dan hasil belajar siswa meningkat.[5]

Jadi dalam penelitian tindakan kelas ada tiga unsur atau konsep, yakni :[6]
1. Penelitian adalah aktivitas mencermati suatu objek tertentu melalui metode ilmiah dengan mengumpulkan data-data dan dianalisis untuk menyelesaikan suatu masalah.
2. Tindakan adalah suatu aktivitas yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu yang berbentuk siklus kegiatan dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu atau kualitas proses belajar mengajar.
3. Kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari seorang guru.

Dari ketiga unsur di atas, yakni penelitian, tindakan dan kelas, dapat disimpulkan bahwa apa yang dimaksud dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah pencermatan dalam bentuk tindakan terhadap kegiatan belajar yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan.[7] Tetapi, selama ini telah terjadi kesalahpahaman tentang PTK, khususnya istilah “kelas” dan “tindakan”. “Kelas” dalam konteks Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dipahami sebagai ruang tertutup yang dilengkapi dengan kursi, meja dan papan tulis, serta menjadi rangkaian dari bangunan gedung sebuah sekolah. Padahal yang dimaksud “kelas” dalam Penelitian Tindakan Kelas adalah “tempat” dimana terjadi proses belajar mengajar antara guru dengan murid. Seperti: lapangan, taman, emperan rumah dan sebagainnya.

Kesalahpahaman yang lain adalah kata “tindakan”. Selama ini, tindakan yang dilakukan guru banyak yang salah kaprah. Artinya, banyak guru yang sudah melakukan tindakan dengan padahal sebenarnya mereka belum “bertindak”. Misalnya, guru memberi tugas pada siswa—tidak cukup satu tugas, tetapu banyak sekali. Kemudian guru menulis kan apa yang telah ia lakukan tersebut (yakni memberikan tugas kepada peserta didik) dalam laporan PTK.

Bagaimana cara memahami “tindakan” yang benar dalam PTK? Cara yang benar yakni guru melaporkan tindakan yang dilakukan peserta didik ketika mereka melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru. Jadi, tindakan peserta didik atas permintaan guru lah yang dilaporkan, bukan intruksi guru kepada peserta didik.
Dengan demikian, proses belajar peserta didik dan hasil belajar mereka dapat diketaui secara empiris, sehingga guru juga dapat “mendiagnosis” berlangsungnya proses pembelajaran. Dari sini, guru dapat melihat kelemahan dan kelebihan pola pembelajaranya yang telah diterapkan selama ini serta mampu mengambil tindakan-tindakan selanjutnya untuk meningkatkan kemampuan siswa.
Berdasarkan penjelasan di atas, kita dapat mengaris bawahi beberapa poin penting tentang PTK, yakni:[8]
1. PTK adalah suatu bentuk inquiry atau penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri.
2. PTK dilakukan oleh peserta yang terlibat dalam situasi yang diteliti, seperti: guru, peserta didik, atau kepala sekolah.
3. PTK dilakukan dalam situasi sosial, termasuk situasi pendidikan.
4. Tujuan PTK adalah untuk memperbaiki dasar pemikiran dan kepantasan dari praktik-praktik belajar mengajar, memperbaiki pemahaman dari praktik belajar mengajar, serta memperbaiki situasi atau lembaga tempat praktik tersebut dilakukan.

E. Ciri Khusus Penelitian Tindakan Kelas

Sebagaimana telah dijelaskan, PTK merupakan bagian dari penelitfan tindakan. Ciri khusus dari PTK adalah adanya tindakan (action) yang nyata. Tindakan itu dilakukan pada situasi alami (bukan dalam laboratorium) dan ditujukan untuk memecahkan permasalahan praktis. Tindakan tersebut merupakan sesuatu kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Pada penelitian tindakan, kegiatan tersebut dilakukan dalam rangkaian siklus kegiatan.

Masih ada keunikan lain dari PTK, di antaranya sebagai berikut:
PTK merupakan kegiatan penelitian yang tidak saja berupaya untuk memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari dukungan ilmiahnya. PTK merupakan bagian penting dari upaya pengembangan profesional guru (tumbuhnya sikap profesional dalam diri guru) karena PTK mampu membelajarkan guru untuk berpikir kritis dan sistematis, mampu membiasakan-membelajarkan guru untuk menulis dan membuat catatam. Hal yang dipermasalahkan bukan dihasilkan dari kajian teoretis atau dari hasil penelitian terdahulu, tetapi berasal dari adanya permasalahan yang nyata dan aktual yang terjadi dalam pembelajaran di kelas. Dengan kalimat lain, PTK berfokus pada masalah praktis bukan problem teoretis atau bersifat bebas konteks.
PTK hendaknya dimulai dari permasalahan yang sederhana, nyata, jelas, dan tajam mengenai hal-hal yang terjadi di dalam kelas.Adanya kolaborasi (kerja sama) antara praktisi (guru, kepala sekolah, siswa, dan lain-lain) dan peneliti dalam pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, pengambilan keputusan yang akhimya melahirkan kesamaan tindakan (action).

Di samping itu, PTK dilakukan hanya apabila ada: (a) keputusan-kelompok dan komitmen untuk pengembangan, (b) bertujuan meningkatkan profesionalisme guru, (c) alasan pokok: ingin tahu, ingin membantu, ingin meningkatkan, dan (d) bertujuan memperoleh pengetahuan dan / atau sebagai pemecahan masalah. Sesuai dengan prinsip bahwa ada tindakan yang dirancang sebelumnya maka objek penelitian tindakan kelas harus merupakan sesuatu yang aktif dan dapat dikenai aktivitas.

Di samping itu, karena PTK menggunakan kegiatan nyata di kelas, menuntut etika: (a) tidak boleh mengganggu tugas proses pembelajaran dan tugas mengajar guru (b) jangan terlalu menyita banyak waktu (dalam pengambilan data, dan lain-lain), (c) masalah yang dikaji harus merupakan masalah yang benar-benar ada dan dihadapi oleh guru, (d) dilaksanakan dengan selalu memegang etika kerja (minta izin, membuat laporan, dan lain-lain).

F. Prinsip-Prinsip Penelitian Tindakan Kelas

Dalam Penelitian Tindakan Kelas terdapat sejumlah prinsip atau pedoman yang harus dipenuhi. Prinsip – prinsip PTK tersebut antara lain:[9]
1. PTK dilakukan dalam kegiatan pembelajaran yang alamiyah. Artinya PTK harus dilakukan tanpa mengubah situasi dan jadwal pelajaran.
2. Adanya inisiatif guru untuk memperbaiki proses pembelajaran.
3. Menggunakan analisis SWOT sebagai dasar bertindak, artinya PTK harus dimulai dengan melakukan analisis SWOT, yaitu: strengh (kekuatan), weaknesses (kelemahan), opportunity (kesempatan), dan threat (ancaman).
4. Adanya upaya secara kongkret.
5. Merencanakan dengan SMART. Yang dimaksud dengan SMART disini bukan cerdas sebagaimana arti harfiah tersebut. Melainkan:
S : Spesifik, khusus, tidak terlalu umum atau luas.
M : Managable, dapat dikelola, dilaksanakan.
A : Acceptable, dapat diterima lingkungan.
R : Realistic, operasional, tidak di luar jangkauan.
T : Time-bound, diikat oleh waktu, terencana.

Dari kelima unsur SMART di atas, terdapat satu unsur yang mempunyai keterkaitan langsung anatara peneliti (guru) dengan subjek yang diteliti atau yang akan dikenai tindakan (siswa). Unsur tersebut adalah acceptable (dapat diterima lingkungan) atau achievable (dapat dijangkau atau dapat dicapai).[10]

Dengan demikian, tidak ada tindakan sewenang-wenang dari guru terhadap siswanya—meskipun tujuannya baik. Kemampuan siswa juga harus dipertimbangkan, apakah penelitian tindakan yang akan dilakukan memberatkan siswa atau tidak. Walaupun demikian, harus diwaspadai kemungkinan adanya rekayasa (kesepakatan) di antara guru dan siswa.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas maka bisa diambil kesimpulan bahwa:
1. Penelitian adalah proses pembuktian dari sebuah teori yang diajukan melalui rangkaian kegiatan yang cukup kompleks dengan pengamatan, perencanaan sampai membuat laporan yang bisa dipertanggung jawabkan.
2. Hubungan penelitian dengan penelitian tindakan adalah Penelitian tindakan bukan lagi mengetes sebuah perlakuan, tetapi sudah mempunyai keyakinan akan ampuhnya sesuatu perlakuan. Pada penelitian tindakan, peneliti langsung menerapkan perlakuan tersebut dengan hati-hati, seraya mengikuti proses serta dampak perlakuan yang dimaksud. Dengan demikian, penelitian tindakan ini dapat dipandang sebagai tindak lanjut dari penelitian deskriptif maupun eksperimen.
3. PTK merupakan bagian dari penelitian tindakan karena PTK yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru, bekerja sama dengan peneliti di kelas atau di sekolah tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempumaan atau peningkatan proses dan praktik pembelajaran. Dimana adanya partisipasi, kritis dan institusi.
4. Penelitian tindakan kelas menurut Stephen Kemmis adalah suatu bentuk penelaahan atau inkuiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari praktik-praktik sosial atau pendidikan yang mereka lakukan sendiri; pemahaman mereka terhadap praktik-praktik tersebut, dan situasi di tempat praktik itu dilaksanakan.
5. Ciri khusus PTK adalah adanya tindakan (action) yang nyata. Yang dilakukan pada situasi alami (bukan dalam laboratorium) dan berfokus pada masalah praktis bukan problem teoritis atau bersifat bebas konteks sekaligus mencari dukungan ilmiahnya.
6. Prinsip – prinsip PTK tersebut antara lain: dilakukan dalam kegiatan pembelajaran yang alamiyah, adanya inisiatif guru untuk memperbaiki proses pembelajaran, menggunakan analisis SWOT sebagai dasar bertindak, adanya upaya secara kongkret dan merencanakan dengan SMART.

Footnotes:

[1] Sulipan, Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: ), 1-3
[2] Trianto, Panduan Lengkap Penelitian Tindakan Kelas, Classroom Action Research,Teori dan Praktik,(Jakarta: Prestasi Pustaka, 2012), 13-16
[3] David Hopkins, A Teacher’s Guide to Classroom Research, (Buckingham: Second Edition, Open Universitry Press, 1993), 4
[4] Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru,(Jakarta: Rajawali Press,2011), 46-47
[5] Basrowi dan Suwandi,Prosedur Penelitian Tindakan Kelas,(Bogor: Ghalia Indonesia, 2008), 24-28
[6] Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru, 4-45
[7] Suyadi, Panduan Penelitian Tindak Kelas, (Yogyakarta: Diva Press, 2010), 18-21
[8] Ibid, 22
[9] Suyadi, Buku Panduan Guru Profesional Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS), (Yogyakarta: Andi, 2012), 7-10
[10] Suyadi, Panduan Penelitian Tindak Kelas, (Yogyakarta: Diva Press, 2010), 36-37

Daftar Pustaka:

Basrowi dan Suwandi. 2008. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas. Bogor: Ghalia Indonesia.

Hopkins, David. 1993. A Teacher’s Guide to Classroom Research. Buckingham: Second Edition, Open Universitry Press.

Kunandar. 2011. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Rajawali Press.

Sulipan. 2000. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: BMTI.

Suyadi. 2010. Panduan Penelitian Tindak Kelas. Yogyakarta: Diva Press.

Suyadi. 2012. Buku Panduan Guru Profesional Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS). Yogyakarta: Andi.

Trianto. 2012. Panduan Lengkap Penelitian Tindakan Kelas, Classroom Action Research,Teori dan Praktik. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s